“Good is enemy of Great” (Jim Collins)
Kata-kata di atas bagi saya memang ada benarnya, karena seringkali ketika kita sudah merasa “Good”, kemudian kita cenderung stagnan alias tidak terus mengembangkan diri. Sehingga tahapan menjadi “Great” tidak pernah tercapai.
Sebelumnya, kita coba analisa terlebih dahulu dimana kita berada saat ini. Saat ini kita berada pada:
-
21st Century as The Era of Brain and The Millennium of Mind
Brain to Brain Competition in the Knowledge and Global Economy
Speed, Speed, Speed, and Innovation
Cut-Throat Competition, To Kill or To Be Killed
Globalization as The Era of Crisis of Meaning (Danah Zohar)
Capitalization as A Monster Consuming Itself (Danah Zohar)
Threats of Economic Hit Team, The Jackal, and Invasion (John Perkins)
Mungkin sebagian besar dari kita tidak menyadari hal-hal di atas, namun itulah yang terjadi sekarang ini. Mau tidak mau kita telah berada pada zaman dimana terjadi kompetisi skill (keahlian), kompetisi kecepatan dan inovasi, kompetisi yang kejam, dan kompetisi-kompetisi yang lainnya. Yang semuanya berujung pada satu kata: “TURBULENCE”.
“The greatest danger in time of turbulence is not the turbulence; it is to act with yesterday’s logic ….” (Peter Drucker)
Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita masih nyaman menggunakan cara berfikir dan bertindak di masa lalu, padahal permasalahan yang dihadapi jauh lebih kompleks dan membutuhkan kecepatan penyelesaian yang lebih cepat.
Menurut saya pribadi, sepertinya teknologi yang berkembang sangat cepat diantaranya adalah teknologi informasi. Ketika zaman dahulu kita masih bangga dengan telepon kabel, maka sekarang kita telah asyik dengan telepon wireless, email, messenger, dan lain sebagainya.
Kenapa teknologi informasi selalu berkembang dan terus berkembang? Salah satu jawabannya adalah karena memang orang-orang yang bergelut di sana selalu melakukan inovasi. Disinilah kompetisi inovasi berlangsung.
Contoh kecil, mungkin ketika masih SMA / SMU, ada teman kita yang sudah cukup senang mendapat nilai ujian 8 (skala 0-10), tapi ada juga yang masih belum puas mendapat nilai 9. Apakah orang yang tidak puas tersebut dapat dikatakan sebagai orang yang kufur akan nikmat? Belum tentu. Bisa jadi karena orang tersebut mempunyai target mendapat angka 10, target yag tidak sekedar good, tapi great, maksimum point. Sementara orang yang mendapat nilai 8, dia cukup senang karena bisa jadi ia hanya menargetkan mendapatkan nilai 7, jadi kalau dapat nilai 8 berarti melampaui target, wajar kalau senang.
Dalam konteks yang lebih luas, misal dalam tataran negara, seorang pemimpin negara yang hanya mempunyai target nilai 8 selama ia memimpin, bisa jadi usaha-usaha yang dilakukannya tidak sekeras dan secerdas jika ia mempunyai target nilai 10.
Dari contoh kecil di atas, semoga kita dapat memahami perbedaan dari good dan great. Selamat menjadi seorang Great Leader, not only Good Leader !
Yuda Harja
disarikan dari presentasi Pak Arif Munandar saat temu alumni PPSDMS di Cisarua
ada satu ungkapan untuk hal ini, dari seorang kawan yang cukup berilmu. semoga rahmat Alloh selalu menyertainya. amin.
Beliau berkata ” Adek boleh bisa jadi apa saja, boleh jadi dokter, boleh jadi sarjana, boleh jadi presiden. dan adek pun boleh tidak jadi apa saja, tapi yang jelas adek harus menjadi seorang muslim. dan untuk itu adek harus mencari ilmu supaya bisa jadi muslim yang baik ”
di sarikan dari OPSKI’2, pondok darussalam – lawang. tahun 2005
mari menjadi great leader