Akhir-akhir ini sering kita jumpai beberapa pembangunan pemukiman bagi masyarakat. Namun tak jarang pula pembangunan pemukiman dilakukan di tempat-tempat yang tidak selayaknya dijadikan untuk itu, seperti sawah, rawa, dan kawasan lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa sawah sebagai lahan subur adalah merupakan lahan yang sangat potensial untuk ditanami, namun kenapa justru banyak pemukiman dibangun di atas “bekas” sawah. Akibatnya hasil produksi atas sawah semakin berkurang dan bangsa ini “diharuskan” untuk mengimpor dari bangsa lain sekedar untuk memenuhi kebutuhan bangsanya. Padahal beberapa tahun yang lalu, bangsa ini adalah negara pengekspor hasil produksi atas sawah.
Perputaran roda kehidupan yang masih tetap berputar ternyata justru membahayakan masa depan bangsa. Para pemilik sawah dengan mudah menjual sawahnya untuk dijadikan pemukiman. Memang sepintas kita beranggapan bahwa ada banyak orang yang terselamatkan dari panasnya terik matahari dan hujan dengan dibangunnya pemukiman. Namun pernahkah kita membayangkan berapa orang lainnya yang dikorbankan untuk itu. Tak sedikit orang yang awalnya memakan hasil produksi dari sawah tadi akhirnya terpaksa memakan hasil produksi bangsa lain. Sungguh benar-benar sebuah roda kehidupan. Memang kita bisa saja dengan santai menanti roda kehidupan yang membawa kebaikan datang kembali, namun pernahkan kita membayangkan kalau rodanya berhenti, dan bahkan berhenti untuk selama-lamanya di saat justru kondisi buruklah yang masih menghampiri? Takdir dari Allah siapa yang tahu, manusia hanya berusaha. Dan sedikit kesalahan yang dilakukan oleh manusia bisa berakibat fatal di kemudian hari.
Keadaan di atas ternyata tidak kita sadari. Kita yang mengaku sebagai manusia berakal justru semakin memperburuk suasana dengan semakin banyaknya sawah yang kita ubah fungsinya. Tak sedikit sawah yang harus dikorbankan demi memenuhi kepuasan sedikit orang. Tak heran jika lapangan golf dibangun lengkap dengan fasilitasnya. Suara merdu hewan penghuni sawah sudah tidak dapat kita dengar lagi. Malah lantunan suara musik yang sering terdengar. Kicauan burung di pagi hari telah tergantikan dengan suara musik rock, suara hewan malam di sawah telah tergantikan dengan suara musik klasik, hamparan sawah yang luas dan menghijau telah digantikan hamparan lapangan golf yang tak kalah hijaunya, gubuk di tengah sawah telah tergantikan oleh bangunan mewah yang dipenuhi dengan gemerlap lampu, sosok petani yang membawa cangkul telah tergantikan dengan sosok orang modern yang membawa stik golf, sosok wanita desa yang membawakan makanan untuk keluarganya di sawah telah pula tergantikan dengan sosok wanita yang “berbusana primitif”, dan masih banyak hal lainnya yang telah tergantikan dengan kehidupan modern.
Harus kita bahwa kita memang membutuhkan pembangunan dan modernisasi zaman agar bangsa ini tidak ketinggalan dengan bangsa lain. Tapi apakah pembangunan dan modernisasi harus mengorbankan sebagian besar aset berharga bangsa yang menjadi tumpuan bagi seluruh masyarakatnya? Kenapa kita harus menangani permasalahan bangsa dengan “membuka” lembaran masalah yang baru? Ini bukanlah langkah cerdas untuk menjadi bangsa yang maju. Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang mengorbankan aset berharganya demi kemajuan bangsa yang semu, tapi bangsa yang maju adalah bangsa yang menjaga aset berharganya dan mengoptimalkannya serta berusaha mencari aset-aset bangsa yang baru. Inilah yang dilakukan oleh Amerika, Jepang, dan bangsa maju lainnya. Sawah di Amerika masih tetap seperti sediakala, malah hasil produksinya terus meningkat. Amerika juga mencoba mencari aset-aset baru yang dimiliki dengan melakukan riset. Dan hasilnya dapat kita lihat sekarang, mereka mampu menjadi bangsa nomor satu di dunia. Di bidang militer, mereka masih yang terkuat. Di bidang ekonomi, mereka masih merajai. Di bidang pendidikan, mereka masih menjadi rujukan utama. Namun sayang, hal tersebut menjadikan Amerika sombong, dan kita “tinggal menunggu” keruntuhannya yang tak lama lagi.
Lalu kita coba mengamati negara bekas penjajah kita yaitu Jepang. Jepang adalah salah satu negara yang sangat memperhatikan sawahnya. Berbagai riset dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi sawahnya. Anehnya pembangunan yang dilakukan di negara ini juga sangat kencang, namun pembangunan yang dilakukan adalah secara vertikal, bukan horisontal. Sehingga di Jepang banyak kita jumpai gedung-gedung tinggi, entah itu kantor ataupun apartemen. Mereka sangat memperhatikan luas sawah yang dimilikinya, dan bahkan mereka terus berusaha agar luas sawahnya semakin luas, karena mereka sadar, makanan adalah kebutuhan primer bangsa adalah kebutuhan yang harus mampu dipenuhi oleh bangsanya sendiri.
Dengan melihat kondisi di atas, sudah seharusnya kita segera menyadari tindakan kita. Sudah saatnya kita melakukan langkah-langkah cerdas untuk masa depan bangsa, bukan langkah-langkah yang hanya mengejar kemajuan semu dan singkat. Saatnya kita mempunyai pemikiran terhadap bangsa ini jauh ke depan, bukan hanya 1 tahun ke depan, 5 tahun atau 10 tahun ke depan, tapi lebih dari itu. Kita jangan hanya memikirkan diri sendiri, tapi anak cucu kita juga harus kita pikirkan. Jangan sampai kita mewariskan pada mereka “hamparan sawah” yang penuh dengan hutang. Kasihan.
” Indonesia tanah air beta ….
Pusaka abadi nan jaya…
Indonesia sejak dulu kala…
sempat di puja-puja bangsa…
di sana tempat lahir beta..
di buai.. dibesarkan bunda…
tempat berlindung di hari tua…
sampai akhir menutup masa .. “