“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujuraat, 49:13).
Demikianlah Allah SWT berfirman di dalam Al Quran yang merupakan kitab suci umat Islam. Firman Allah telah turun ke muka bumi ini sekitar 15 abad silam. Jauh lebih dulu daripada wacana kebangsaan yang dikumandangkan oleh negara-negara barat yaitu sekitar abad pertengahan.
Islam melalui firman Allah di dalam Al Quran mengakui eksistensi bangsa-bangsa di dunia. Dalam perkembangan sejarah sejak zaman pertengahan hingga kini, semua negara menamakan dirinya sebagai negara bangsa (nation state). Namun di dalam Islam, konsep negara tidak boleh mengungguli nilai keislaman. Hal ini disebabkan Islam lebih tinggi dan konsep Islam adalah konsep terbaik di muka bumi ini. Tidak ada yang mampu menyainginya dan terbukti bahwa Islam pernah menguasai dua-pertiga dunia sebelum akhirnya runtuh yang tidak lain dikarenakan umat Islam tidak menjalankan Islam secara kaffah.
Islam tidak mengenal batas-batas teritorial kenegaraan, oleh karena itu alangkah baiknya jika kita sebagai umat Islam ketika memperkenalkan diri kepada orang lain kali pertama mengatakan “saya adalah muslim”, baru setelah itu mengatakan “saya dari Indonesia”. Jadi identitas ke-Islam-an kita dahulukan, baru setelah itu identitas kebangsaan kita. Kita harus bangga menjadi umat Islam karena di sisi Allah umat Islam adalah umat terbaik sepanjang masa.
Kondisi umat Islam di dunia sekarang ini sangat memprihatinkan. Selain menjadi kaum minoritas, harga dirinya juga diinjak-injak di dunia Internasional oleh kaum kafir laknatullah ‘alaih, bahkan hal tersebut dilakukan di hadapan umat Islam sendiri. Menurut catatan PBB (United Nations Organization) beberapa tahun yang lalu, jumlah negara-negara di dunia telah mencapai angka 200, dan mayoritas penduduk dunia adalah non muslim. Katakanlah beberapa tahun yang lalu jumlah penduduk dunia sebanyak 6 milyar, maka yang beragama Islam adalah hanya sekitar 1 milyar. Jadi perbandingannya adalah 1 : 5. Tentu saja kondisi ini sangat memprihatinkan kita semua. Namun sebagai umat Islam kita tidak boleh putus asa dan pasrah begitu saja. Akan tetapi dengan kondisi seperti ini mari kita jadikan momen untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas umat Islam.
Program Keluarga Berencana (KB) yang digulirkan sejak orde baru adalah salah satu cara membatasi populasi umat Islam, khususnya di Indonesia. Sebaliknya dengan adanya momen KB itu orang-orang keturunan Cina yang mayoritas non muslim malah meningkatkan populasinya dengan tidak mengikuti program KB. Jadi sekarang ini populasi orang-orang Cina di Indonesia menjadi sangat banyak. Dan banyak di antara mereka yang memegang kendali perekonomian negara ini. Padahal seharusnya kita yang memegang kendali perekonomian kita sendiri, bukan bangsa lain.
Program KB sedikit banyak telah mencuci otak bangsa Indonesia pribumi. Mengapa umat Islam harus KB ? Mengapa pula umat Islam takut tidak dapat makan ? Padahal nenek moyang kita dahulu tidak pernah berfikir tentang apakah cucunya nanti akan makan atau tidak. Sebab mereka mempunyai prinsip bahwa rizki datangnya adalah dari Allah, Dzat yang Maha Kaya. Akhirnya sekarang ini masyarakat kita memiliki pandangan bahwa kalau mempunyai anak cukup satu atau dua. Dan akhirnya rasio populasi umat Islam bila dibandingkan dengan kaum kafir semakin lama semakin kecil.
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”.
Demikian Allah SWT berfirman dalam salah satu ayatnya dalam Al Quran surat Al Isra’ ayat 70. Eksistensi manusia bila dikaitkan dengan eksistensi suatu bangsa sesungguhnya telah mendapat pengakuan dari Al-Qur’an. Sekarang semuanya tinggal tergantung kepada manusia itu sendiri yang menilainya. Apakah ia akan mendapatkan pengakuan yang lebih tinggi di sisi Allah dengan mendapatkan gelar “atqaakum” karena ketakwaannya atau mendapatkan pengakuan yang lebih rendah di sisi Allah.
Sepak terjang kaum kafir sebagai kaum mayoritas telah mengganggu eksistensi umat Islam sebagai kaum minoritas di dunia. Mereka terus menekan umat Islam dengan cara apa saja. Dalam sebuah kesempatan pidato saat pelantikan sebagai Presiden Amerika Serikat yang kedua kalinya beberapa waktu lalu, George Bush menegaskan bahwa “The best hope for peace is the expansion of freedom.” (Harapan terbaik untuk perdamaian adalah melakukan ekspansi kebebasan). Masalah kebebasan menjadi penekanan penting dalam pidato Bush tersebut. Kata “freedom” dan “liberty” disebut sebanyak 49 kali dalam pidatonya. Sekilas tidak ada yang baru dari pidato Bush tersebut. Sejak dahulu Amerika memang tergolong rajin dalam menggelorakan slogan kebebasan (freedom atau liberty). Patung Liberty yang berdiri megah di New York sudah identik dengan negara adikuasa tersebut. Memang dalam berbagai kondisi dan keadaan kebebasan adalah fitrah manusia. Tetapi tidak ada yang dapat memungkiri bahwa kebebasan itu sendiri memiliki makna yang relatif. Tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas. Kebebasan pasti ada batasnya. Oleh karena itu kita tidak perlu bersikap antipati terhadap kata “kebebasan” (freedom, liberty) dan sejenisnya, tetapi kita perlu bersikap kritis mencermati apa yang dimaksudkan dengan kebebasan itu.
Baik dipandang dari segi politik dan ekonomi, karena slogan “freedom” dan “liberty” sudah menjadi slogan penguasa dunia, maka bisa dimaklumi jika banyak kalangan yang mengadopsi jargon “freedom” dan “liberty”. Tentu banyak keuntungan dengan mengadopsi jargon tersebut. Dan tentu sikap konservatif untuk mendukung penguasa dunia akan lebih nyaman dan mendatangkan banyak keuntungan jika dibandingkan dengan jika kita mengkritisinya.
Sekarang mari kita mencoba bersikap kritis. Jenis “freedom” atau “liberty” macam apakah yang dimaksud oleh George W. Bush dan para pendukungnya di seluruh dunia ? Lebih jauh dalam pidatonya Bush mengatakan, “So, it is the policy of the United States to seek and support the growth of democratic movements and institutions of every nations and culture, with the ultimate goal of ending tyranny in our world.” (kebijakan AS saat ini ialah mencari dan mendukung tumbuhnya gerakan dan institusi demokrasi di berbagai negara dan budaya. Dengan tujuan akhir mengakhiri tirani di dunia ini).
Namun realita di lapangan yang terjadi adalah justru sebaliknya. Bush dengan bendera Amerika malah membangun tirani dan menghancurkan setiap tirani yang menghalanginya. Bush tidak segan-segan menggunakan kekuatan militernya jika memang militer dibutuhkan untuk mencapai tujuannya. Dunia selama ini telah melihat dengan jelas bagaimana AS menjalankan politik adikuasanya dengan semena-mena. AS memaksa negara-negara lain untuk mengikuti kehendaknya, tetapi dia sendiri enggan menandatangani berbagai konvensi internasional yang mendukung tercapainya “freedom” seperti konvensi tentang diskriminasi terhadap wanita, konvensi tentang hak-hak anak, konvensi tentang hak-hak sosial, ekonomi, dan budaya, protokol kyoto tentang pengurangan emisi gas CO2, perjanjian tentang larangan uji coba senjata nuklir, perjanjian tentang anti-ballistic missile, konvensi tentang senjata biologi dan beracun, konvensi tentang senjata kimia, land mine ban treaty, dan international criminal court. Apakah ini yang dinamakan “freedom” dan “liberty” seperti yang didengungkan oleh Bush ? Apakah AS hanya bisa menyusun kata-kata manis sebagai jargon politik yang hanya indah diucapkan dan diterapkan hanya sesuai dengan kepentingannya ?
Jelas, bahwa makna kata “freedom” dan “liberty” sangat tergantung pada persepsi dan ideologi yang mendasari. Konsep “kebebasan” bagi bangsa barat-sekuler sangat berbeda dengan konsep “kebebasan” dalam Islam. Tapi yang pasti adalah di dunia ini tidak ada kebebasan yang mutlak, bahkan di negara barat sekalipun. Di dalam konsep Islam pada dasarnya manusia memiliki kebebasan untuk memilih, bebas untuk menjadi mu’min atau menjadi kafir. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al Quran surat Al-Kahfi ayat 29 yang artinya,
“Dan Katakankah, Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.”
Ketika seseorang mengaku menjadi muslim dan mengikrarkan dirinya sebagai muslim, maka kebebasan yang dia miliki juga dengan secara sadar ia batasi dengan ajaran-ajaran Islam. Seorang muslim yang paham dan sadar akan ke-Islaman-nya tentu ikhlas untuk tidak menjadi “liberty” sepenuhnya. Ia ikhlas menerima pembatasan yang diberikan Allah dan Rasulullah SAW dan tidak mencari-cari alasan untuk melanggar aturan Allah atas nama “freedom” dan “liberty”.
Jargon “freedom” atau “liberty” versi Bush yang kini disebarkan dan dipaksakan ke seluruh dunia jelas mengandung unsur kepentingan AS. Jangan sampai kita bersikap konservatif atas jargon tersebut. Tapi kita harus bersikap sebaliknya yaitu dengan bersikap progresif dan kritis. Jika Bush, AS, negara-negara barat, dan penyokong jargon “freedom” dimanapun mereka berada mereka konsisten dengan gagasannya. Maka kita juga harus terus istiqomah menyokong dan membantu kaum muslimin di seluruh penjuru dunia untuk membangun pemikiran dan peradabannya sendiri. Bukannya malah menghalangi dan memaksa kaum muslimin yang lain untuk tunduk dan mengikuti ideologi serta pandangan hidup kaum non muslim tersebut.
Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memerangi kezaliman. Rasulullah saw bersabda,
“Bila orang-orang melihat orang zalim, tapi mereka tidak mencegahnya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan siksaan terhadap mereka semua.” (HR Abu Daud).
Rosulullah juga bersabda,
“Kebaikan yang paling cepat mendapat balasan ialah kebajikan dan menyambung tali silaturahmi. Dan kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman ialah kezaliman dan pemutusan tali silaturahmi.” (HR Ibnu Majah).
Dalam beberapa aspek kehidupan, kehadiran Islam juga turut membebaskan umat manusia dari berbagai belenggu yang mengekang kebebasan mereka. Bahkan, salah satu misi penting dari Islam adalah membebaskan manusia dari belenggu kezaliman. Ini menjadi tugas penting setiap muslim, terutama para penguasa. Islam datang dengan membawa prinsip Tauhid yang juga merupakan prinsip pembebasan manusia dari pengabdian antar sesama makhluk. Tauhid hanya menjadikan Sang Khaliq yaitu Allah SWT sebagai Yang patut untuk dipuja dan ditaati. Pembebasan manusia dari perhambaan sesama manusia juga menjadi misi penting dari prinsip Tauhidullah.
Untuk itu, marilah kita tingkatkan amal-ibadah dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Marilah tingkatkan pula amal-muamalah kita, dengan menggunakan prinsip-prinsip kesejahteraan dalam Islam yaitu dengan membayar zakat sebanyak 2,5% dari pendapatan kita. Selain itu mari kita juga berinfak dan bershadaqah menurut kemampuan kita masing-masing. Semoga Allah memberikan pertolongannya kepada umat muslimin di dunia. Amin.
Recent Comments