Berfikir Strategis

2 01 2007

Ketika kita berbicara tentang ‘berfikir strategis’, kita tidak bisa lepas dari kata ‘strategi’. Dalam bahasa inggris, kata ‘startegy’ mempunyai makna yaitu ‘the art of planning operation’. Hal itu menjadikan strategi merupakan bagian terpenting dari sebuah sistem dan merupakan bagian yang paling rumit karena banyaknya ketidakpastian yang ada di dalamnya. Kita bisa menyimpulkan bahwa ‘berfikir strategis’ adalah berfikir di area tersebut.

Kemampuan otak manusia normal untuk berfikir adalah sudah tidak diragukan lagi kehebatannya. Otak manusia mempunyai keunggulan baik dalam segi ‘storage’ maupun ‘speed’. ‘Storage’ otak kita sangat besar, segala sesuatu yang terjadi pada diri kita sejak lahir hingga kelak kita meninggal dunia semuanya terekam dalam otak kita. Meski demikian ternyata hal itu hanya memakan ‘space’ yang cukup kecil bial dibandingkan dengan kemampuan otak seluruhnya. Kemampuan otak kita dalam berfikir dapat disetarakan dengan kemampuan untuk menalar, yaitu menanyakan hal-hal yang terkait dengan ‘science and technology’, emosi, moral, dan spiritual.

Pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan ‘science and technology’ meliputi pertanyaan-pertanyaan seperti ‘nama (what is “X” ?)’, ‘gunanya benda-benda itu untuk kita (what for ?)’. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan emosi cenderung kepada hal-hal yang terindera oleh panca indera kita, dengan kata lain yaitu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia. Pertanyaan-pertanyaan moral antara lain adalah berkaitan dengan kejujuran, kesetiaan, kebenaran, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan spiritual adalah meliputi pertanyaan tentang dirinya sendiri, dimana pertanyaan ini tidak dapat diselesaikan oleh nalar itu sendiri, karena berhubungan antara Sang Kholiq dan makhluq. Jadi kita bisa membuat kesimpulan tentang apa sebenarnya ‘berfikir’ itu yaitu mengenali dan mengklasifikasikan pertanyaan-pertanyaan nalar tapi belum tentu mempunyai kemampuan memilih.

Pertanyaan tentang ‘science and technology’ tidak melibatkan pilihan, pilihan baru dilibatkan pada pertanyaan pada level emosi dan moral. Sehingga tugas kita sekarang adalah menata kembali peta kognitif kita supaya tersedia cukup pilihan emosional dan moral. Seorang pemimpin adalah orang yang sadar akan pilihan-pilihan moral, memilih pilihan-pilihan tersebut dan melaksanakan pilihan-pilihan tersebut apapun risikonya.

Sejarah atau ‘history’ adalah panggung pilihan moral, jika berhasil maka akan berakhir dengan suatu kebaikan, sedangkan bila gagal maka akan berakhir dengan suatu keburukan. ‘Al islamu dinul aql’, Islam adalah agama akal. Orang yang tidak berakal adalah orang yang jahil, yaitu tidak bisa menentukan pilihan-pilihannya. Al Quran Al Karim menyediakan banyak sekali pilihan-pilihan moral dan contoh sejarah. Namun pilihan-pilihan itu bisa hilang bila kita dihancurkan dari sistematika Al Quran, yaitu kita dijauhkan dari pendidikan bahasa. Padahal hal terpenting dalam berfikir strategis adalah bahasa itu sendiri. Bahasa adalah penakluk, bangsa yang lebih unggul dapat memaksakan bahasanya kepada bangsa yang lainnya.

Otak kita membutuhkan suatu rangsangan agar tumbuh, dan rangsangan itu adalah berupa informasi. Ketika kecil, ibu kita memberikan informasi kepada kita yaitu tentang hal-hal biologis dan sosiologis (mengajarkan tentang nama-nama benda,suara, dan lain sebagainya).

Berfikir strategis dapat pula diartikan sebagai berfikir sadar organisasi, dimana ketika berada di level atas, kita mampu berfikir lebih strategis. Sedangkan ketika kita berada di level bawah, kita mampu berfikir lebih taktis. Berfikir strategis dalam hal ini adalah sangat bergantung erat dengan level dan level tersebutlah yang mempengaruhi cara berfikir kita.

Berfikir strategis dapat pulan diartikan berfikir berdasarkan pijakan pada suatu perencanaan. Sebuah rencana adalah sangat penting untuk keperluan evaluasi. Karena pada evaluasi kita melakukan pembandingan antara rencana dengan hasil yang telah dicapai.

Berfikir strategis dapat diartikan berfikir sadar tujuan. Tanpa sebuah perencanaan orang akan sulit untuk sabar. Perencanaan yang baik adalah selalu mengikutsertakan asumsi. Asumsi mempunyai makna sebagai suatu keadaan di luar kehendak kita. Asumsi adalah sangat penting bagi kita karena kita mempunyai banyak kelemahan. Sebuah perencanaan haruslah fleksibel. Yang dimaksud fleksibel dalam hal ini adalah dari segi taktis (teknologi, manajemen), namun tidak melibatkan segi strategis (moral, emosi). Jangan sampai kita kehilangan kesadaran diri, karena bila hal itu terjadi maka berarti kita membangun sebuah kerusakan, atau dengan kata lain kita sedang melakukan perusakan. Jadi berfikir untuk sadar diri juga dapat dikatakan sebagai berfikir strategis.

Ternyata berfikir strategis mempunyai banyak makna yang meliputi seluruh sendi-sendi kehidupan manusia. Dalam segala keadaan kita dituntut untuk selalu berfikir strategis, karena dengannya kita akan mampu menyelesaikan setiap permasalahan hidup yang kita hadapi. Semoga hidup kita yang hanya seklai ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Amin.

Sumber:
Resume Materi Diskusi Pasca Kampus yang disampaikan oleh Bapak Dr. Daniel M. Rosyid di asrama PPSDMS Regional 4 Surabaya, beberapa waktu lalu.


Actions

Information

Leave a comment