Fitrah manusia membutuhkan kepemimpinan. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT dalam Al Quran surat Al Isra’ ayat 71,
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; ………
Kelak di hari kiamat, manusia akan hadir mengelompok berdasarkan pemimpin mereka yaitu nabi dan rosul. Dan kelompok yang paling besar adalah kelompok yang dipimpin oleh Baginda Rosulullah Muhammad SAW. Di sisi lain jika nabi dan rosul bukanlah pemimpin mereka, maka mereka akan mengikuti pemimpin-pemimpin yang lain, yaitu orang-orang yang selama di dunia mereka jadikan pemimpin bagi mereka.
Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (HR Muslim), begitulah arti dari salah satu sabda Nabi tentang kepemimpinan. Nabi ingin menekankan pada umatnya bahwa setiap diri kita ada sebuah fitrah yaitu diri kita sebagai pemimpin. Selayaknya pemimpin maka diri kita harus mampu memimpin diri kita sendiri agar bagaimana selalu berbuat baik dan meninggalkan hal yang buruk. Karena kelak di hari pembalasan, diri kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Dalam konteks secara berjamaah, kita harus memilih pemimpin bagi kita. Minimal jika ada 2 orang, maka salah satu dari mereka harus menjadi pemimpin. Apalagi jika terdiri atas banyak orang. Kepemimpinan adalah syarat tegaknya jama’ah. Allah SWT berfirman di dalam Al Quran surat As Shaf ayat 3,
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Sebagaimana sebuah bangunan yang kokoh, maka jama’ah harus kuat pula. Karena yang kita hadapi tidaklah main-main, yaitu orang-orang kafir, yang secara ideologis berbeda dengan kita.
Pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin yang sebenarnya adalah ketika ia mempunyai modal yaitu kredibilitas yang dibutuhkan oleh pemimpin. Setidaknya seorang pemimpin harus memiliki dua hal pokok yang sangat mendasar yaitu integritas dan kapabilitas.
Integritas menyangkut atas ideologi dan moral. Untuk lebih mudah memahami, integritas adalah satunya kata dengan perbuatan. Allah SWT berfirman di dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 51,
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menadi pemimpin-pemimpin(mu)……
Jelas bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani berbeda ideologis dengan kita, sehingga Allah SWT melarang kita untuk memilih dari kalangan mereka untuk dijadikan sebagai pemimpin.
Berbicara tentang kapabilitas maka hal tersebut akan melibatkan aspek intelektualitas atau kemampuan. Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan dalam menetapkan sebuah visi dan berusaha untuk mencapai visi tersebut (visioner). Kemampuan manajerial dan komunikasi, baik secara personal maupun massa, adalah juga menjadi syarat mutlak bagi seorang pemimpin. Allah SWT berfirman di dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 57,
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, ……
Pemimpin yang kta pilih hendaknya adalah orang yang benar-benar mempunyai kapabilitas yang memadai sebagai seorang pemimpin, karena ia adalah simbol atas apa-apa yang dipimpinnya.
Integritas dan kapabilitas, dua hal itulah yang perlu diasah oleh seorang muslim, karena keduanya sangat dibutuhkan dalam menjalani roda kehidupan di dunia. Jika kita tidak memilikinya, maka janganlah bermimpi utnuk mampu menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya. Ingatlah bahwa diri kita adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi diri kta. Sehingga mau tidak mau kita harus mempunyai integritas dan kapabilitas sebagai tangga awal menuju tingkatan kepemimpinan yang lebih tinggi.
Sungguh berat amanah menjadi seorang pemimpin …
moga kita dapat menerapkan arti kepemimpinan sejati itu…
selamat menjadi pemimpin
- – -
yuda harja
- – -
[...] ini sebelumnya saya publikasikan di blog wordpress saya: http://yudaharja.wordpress.com) addthis_pub = ‘brighter19′; Posted in Leadership & Management [...]
[...] Kredibilitas Seorang Pemimpin [...]