Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi banyak sekali perubahan yang mendasar pada sisi para cendekiawan muslim. Salah satu faktor penyebabnya adalah penjajahan oleh negara-negara Barat yang notabene adalah negara yang non-muslim (Kristen). Namun ketika kita mencoba memahami makna tentang penjajahan tersebut, ternyata yang dilakukan oleh negara-negara Barat bukan hanya penjajahan fisik, tetapi juga penjajahan pemikiran. Mungkin sebagian dari umat Islam sendiri akan merasa bingung dan menganggap itu adalah hal yang aneh, namun yang pasti adalah telah terjadi pergeseran pemikiran dari beberapa cendekiawan muslim, khususnya yang berkaitan dengan agama (Islam) dan politik.
Sejak adanya penjajahan itulah kita mulai mengenal yang namanya sekularisme, yang bila kita definisikan secara sederhana adalah: negara dan agama harus bercerai; agama milik pribadi, sementara negara milik publik; agama hanya boleh bermain di masjid, sementara negara bermain di jalan yang luas. Umat Islam harus sadar bahwa inilah masa dimana Islam terlempar dari kancah kekuasaan dan politik, inilah keberhasilan terbesar dalam sejarah yang pernah dicapai oleh Barat dalam rangka memusuhi Islam. Dimana seorang Mustafa Kemal Attaturk kala itu (setelah kekholifahan Islam runtuh tahun 1924) dengan gagahnya mengantarkan dunia Islam pada sebuah potongan sejarah tanpa khilafah untuk pertama kalinya, dan hingga saat inipun belum berakhir.
Perlu diketahui bahwa ide sekulerisasi (pada politik) berakar pada masa Israel kuno. Gagasan pemisahan sesuatu yang bersumber dari Tuhan dan dari manusia seperti pengingkaran sifat teokrasi kerajaan, pertama kali diimplementasikan pada masa Israel kuno yang kemudian berkembang menjadi tema utama agama Kristen, sehingga dalam penyebaran agama Kristen ke seluruh Eropa, disertai pula pesan sekulerisasi. Maka bukanlah sesuatu yang mengherankan jika sekulerisme di Eropa (negara-negara Barat) sangatlah mengakar.
Penjajahan pemikiran yang bermula dari perang pemikiran (Ghazwul Fikr) ternyata telah mampu mengubah tatanan sosial dunia (Islam). Diakui atau tidak, di dunia saat ini, pemikiran tentang Islam telah mencapai keberagamannya, sehingga beragam pula kondisi umat Islam. Secara umum, keberagaman tersebut dapat kita kelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu: Islam fundamental (Islam kanan) dan Islam pembaharuan (Islam kiri). Islam pembaharuan yang dulunya gencar dalam melakukan propaganda sekulerisme, ternyata mulai menemui keruntuhannya. Meskipun gerakan Islam pembaharuan bersembunyi di balik kediktatoran pemerintahan, namun ia tidak mampu untuk tetap eksis ketika menghadapi tantangan riil, karena memang mereka lemah secara konsep. Mereka hanya berorientasi untuk menyerang Islam fundamental dan tidak pernah sanggup membawa konsep yang original serta komprehensif yang berlandaskan sebuah metodologis yang kuat, untuk menghasilkan output yang sukses.
Gerakan Islam pembaharuan yang sekarang telah ber-reinkarnasi menjadi Islam liberal (dengan tetap mengusung sekulerisme) terus-menerus mengalami perlawanan dari gerakan Islam fundamentalis, yang mana gerakan Islam fundamentalis ini berawal dari konsensus di kalangan umat Islam tentang adanya kesadaran akan eksistensi Islam. Di berbagai tempat berkembang kesadaran perlunya kaum muslimin kembali kepada cara dan metode berfikir Islami yang telah dicontohkan oleh para pendahulu mereka dan mulai berani menyingkirkan faham-faham sekuler dalam wilayah politik mereka. Dalam dunia politik, faham sekuler berkembang dalam bentuk gagasan nasionalisme sekuler, dan telah merasuki beberapa kalangan cendekiawan dan pemimpin di dunia Islam.
Perlu diketahui bahwa para tokoh nasionalisme sekuler percaya bahwa kedudukan nasionalisme sekuler lebih tinggi dari kedudukan agama, karena secara kategoris memang (disengaja) berbeda dengan agama. Oleh karena itu, dalam prakteknya, nasionalisme sekuler telah menjelma menjadi agama baru. Umat Islam yang menjadi warga negara-negara nasionalis dipaksa untuk menganutnya. Dan akhirnya tak sedikit pula umat Islam yang kemudian mendukung faham tersebut, bahkan memperjuangkannya mati-matian dan rela berhadap-hadapan dengan umat Islam sendiri (yang menentang keberadaan faham tersebut). Padahal Islam telah menetapkan dasar-dasar tentang politik dan kedudukannya dalam agama. Dan Islam juga telah memastikan bahwa setiap muslim harus berpolitik dengan cara yang Islami, seorang muslim sama sekali tidak dibenarkan berpolitik dengan berlandaskan sekulerisme.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa gugatan keabsahan hubungan Islam dengan politik adalah bagian dari konspirasi kaum penjajah dalam rangka mensukseskan proses sekularisasi pada tubuh Islam. Proses sekularisasi adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses panjang penjajahan. Para penjajah tidak henti-hentinya untuk memperkuat cengkeramannya melalui berbagai ide dan pemikiran yang dapat memastikan keberlangsungan penjajahan di negeri-negeri bekas jajahan (fisik) mereka. Gencarnya propaganda sekulerisme yang dilancarkan oleh para penjajah di dunia Islam mengakibatkan hubungan agama (Islam) dengan masalah perpolitikan menjadi wacana dan perdebatan yang tak kunjung usai di kalangan umat Islam sendiri. Tak jarang hubungan di antara umat Islam yang pro dan kontra sekulerisme seringkali meruncing, dengan kata lain, umat Islam terkurung dalam konflik internal yang berlarut-larut yang seharusnya hal semacam ini tidak perlu terjadi. Dan ironisnya banyak di kalangan umat Islam yang belum menyadari kondisi seperti ini.
Referensi :
1. Buku “Dari Gerakan ke Negara” (H.M. Anis Matta)
2. Buku “Islam dan Politik” (Abu Ridha)
Recent Comments